Jumat, 15 Desember 2017

REFLEKSI AKHIR TAHUN 2017

Refleksi terkesan klise, tapi apakah dengan memaknai hal yang harus digarisbawahi dalam satu tahun ini bertentangan dengan hak asasi? Jawabannya tidak. Setiap kita berhak mengambil hikmah dalam setiap peristiwa yang telah dialami, berdamai, menerima, ikhlas.



Jika hidup diibaratkan sebuah buku maka sudah sampai halaman berapakah saat ini? Seberapa tebalkah buku yang mengisahkan tentang kita? Apakah masih panjang perjalanan kita? Ataukah sudah mendekati akhir cerita?

Bersyukurlah, sekalipun itu cobaan. Bersyukurlah, terlebih itu nikmat. Tidak semua dapat kesempatan untuk merasakan nikmat dan cobaan secara seimbang.

Minggu, 10 Desember 2017

BELI SUSU DAN ROTI GULUNG DI CIMORY SEMARANG

Setelah beberapa kali melewati tempat ini saat pergi ke Semarang atau bahkan hanya nitip dibelikan susu akhirnya pada hari Sabtu, tanggal 09 Desember 2017 saya berkesempatan datang ke Cimory on the Valley. Berlokasi di Jalan Soekarno Hatta, km. 30, Jatijajar, Bergas, Semarang, Jawa Tengah (kalau dari arah Jogja kanan jalan), Cimory on the Valley menghadirkan konsep peternakan hewan dan menyatu bersama alam (sok tau dan tanpa riset loh, hahaha).




Tepat jam 9 lebih 15 menit saya dan keluarga sampai di lokasi, tempat parkir sudah penuh dengan mobil dan bus! Setelah saya masuk ke dalam, barulah diketahui bahwa banyak rombongan anak TK dari berbagai wilayah yang tengah berbaris sedang mengadakan kunjungan ke sini. Ya itu tadi, mungkin memperkenalkan konsep peternakan hewan dan kembali ke alam. Awal mula saya dan keluarga bisa sampai di sini karena minggu lalu saya pulang kampung dan Bapak kepingin diajak jalan-jalan. Bingung mau ke mana, ya sudah saya tentukan tempat ini sebagai destinasi. Barulah pada minggu ini rencana tersebut dilaksanakan. Sebenernya karena saya juga kepingin minum susu Cimory yang nggak dijual di Indomaret sih, hehehe.



Tiket masuk ke lokasi peternakan dan (perkebunan yang belum jadi?) seharga Rp 15.000,- dan nantinya bisa ditukar dengan satu buah yogurt kecil. Kami kira nggak boleh bawa air minum ternyata boleh, alhasil kehausan pas di dalam lokasi karena cuma ada penjual sosis bakar. Hahaha.










Beberapa titik masih diperbarui oleh tukang-tukang. Sepertinya bakal ada calon Rumah Hobbit, tanaman buah atau sayur dan lain sebagainya di dalam sini. Menilik dari prediksi suami saya, 6 bulan lagi beberapa titik di Cimory on the Valley sudah siap dan bakalan lebih indah dan asri untuk dipandang.





Tempat sampah tersedia di banyak tempat, jadi nggak ada alasan untuk buang sampah sembarangan kan?




Iya, hati-hati ya, beneran banyak anak tangganya. Lumayan buat olahraga kalau bolak-balik muterin lokasi sebanyak minimal 5x.




Yap, sampai di penghujung perjalanan. Kami harus kembali ke jalur awal di dekat pintu masuk sebelum keluar. Menurut saya kurang efektif, tapi ya kemungkinan hal tersebut disebabkan oleh belum siapnya sarana dan prasarana. 60% saya cukup menikmati tempat ini. Karena saya wong ndeso, jadi kalau melihat sawah-sawahan, kebun-kebunan, dan peternakan, sudah cukup lumrah. Bedanya di sini, lebih rapi, lebih bersih, yaiyalah. Saya kurang paham pabrik yang di dekat pintu keluar ini apakah pabrik betulan atau hanya display. Karena mesin mati dan tidak ada orang, atau libur? Hehehe saya tidak menanyakan hal tersebut kepada petugas.









Yuhuuu, inilah tujuan saya memilih Cimory on the Valley: beli susu dan roti gulungnya. Hehehe. Oh ya, roti gulungnya tenrnyata enak lho (setidaknya menurut lidah saya), teksturnya lembut, nggak manis banget, nggak bikin eneg. Sesuai selera banget deh. Kalau ke sini boleh beli, atau nyoba testernya aja nggak apa-apa, hahaha.




Di sini juga ada restonya, tapi karena paginya saya dan keluarga sudah sarapan di Warung Sop Senerek Bu Atmo Magelang jadilah kami tidak makan di sini. Kalau makan di sini, nanti buat beli bensin pas perjalanan pulang pakai apa. Hahaha. Terlepas dari itu, memang tujuan kami (saya ding), beli susu sama roti gulung. Pukul 01 siang saya dan keluarga sudah sampai di rumah dengan selamat, alhamdulillah.

Selasa, 05 Desember 2017

BIOSKOP DI BOJONEGORO!

Bojonegoro, sebuah kabupaten dengan luas 2.307 kilometer per segi yang menyimpan cadangan migas  nasional sebesar 20%. Sebuah kabupaten di Jawa Timur yang rutin menjadi langganan banjir pada tiap tahunnya. Cobalah ke Bojonegoro si Kota Ledre ini, kota yang senantiasa panas pagi-siang-malam.

Kesan pertama menginjakkan kaki di kabupaten ini yakni pada bulan April tahun 2015 adalah sepi. Kebetulan saya bertugas di ibukota kabupaten, jadi ya alhamdulillah beberapa fasilitas sudah cukup lengkap. Semuanya harus disyukuri, masih ada Toga Mas (bisa beli buku bacaan deh), masih ada Giant Express (sering berburu diskon akhir bulan), masih ada Indomaret-Alfamart, masih ada beberapa tempat les pelajar yang cukup me-nasional, bank-bank nasional juga lengkap, ada beberapa supermarket dengan harga murah (favorit saya belanja bulanan: Bravo), ada tempat makan gaul-gaul yang mulai tumbuh (favorit saya: Ayam Geprek Nano & Milk Shake, Ayam Geprek yang logonya kuning, Javanilla, dan Leko), beberapa pilihan ekspedisi seperti JNE, J&T, TIKI, dan POS, dan sarana transportasi umum dari bus dan kereta (tapi sayang sekali tidak ada jalur kereta langsung ke Jogja). Tahun lalu bahkan sudah berdiri Go-Fun (Bojonegoro Fun) sejenis BNS kalau di Malang. Terlalu banyak yang harus disyukuri bukan? Ternyata standar rasa syukur saya di sini adalah beberapa hal yang sudah familiar di Indonesia.

Selama hampir tiga tahun ini saya sering mengandai jika Bojonegoro memiliki bioskop (ya, saya suka nonton film), pastilah akhir pekan saya akan lebih menyenangkan (jika saya tidak pulang Jogja). Kira-kira pada bulan Juni tahun 2017 pengandaian saya menemukan muaranya, Bioskop di Bojonegoro hidup kembali. Hidup kembali? Iya, pada tahun 1991 Bojonegoro sempat memiliki bioskop, namun sempat vakum cukup lama dengan alasan yang tentu saja saya tidak tahu. Senang? Alhamdulillah. Jika saya tidak pulang Jogja dan suami yang ke Bojonegoro, akhir pekan sudah pasti kami habiskan nonton film di bioskop. Hiburan! Hahaha (jadi tidak perlu lagi ke Surabaya untuk sekedar menonton film)...

Terima kasih New Star Cineplex Bojonegoro sudah lahir kembali. Oh ya, kalau mau nonton kalian bisa datang ke Jalan Hayam Wuruk, No, 74, Bojonegoro (Seberang Pengadilan Negeri Bojonegoro).


Kamis, 30 November 2017

BERBAGI ADALAH PEDULI #1

Sedikit mengulang namun bukan meratap sarat emosi seperti dalam Berbagi Kisah.

Rezeki, jodoh, dan maut adalah rahasia bagi mereka yang mempercayaiNya.
Dan saya percaya itu. Sebuah kata sederhana dan sangat mudah untuk diucapkan, terlebih bagi mereka yang telah memiliki segala, merangkul semua. Lain halnya bagi kami yang masih mengeja segala dan menerima nyata dengan penuh harap dan pinta. Semoga segera bertemu muaranya...


gambar pribadi: strip dua pada TP sudah agak pudar karena baru kali ini difoto setelah hampir sembilan bulan disimpan

Bulan Desember 2017 nanti seharusnya menjadi bulan kelahirannya, tabungan kami di akhirat, Insha Allah. Bulan Desember 2017 yang juga bertepatan dengan satu tahun pernikahan kami. Bagi kami yang masih merindukan buah hati, mengamini segala doa agar senantiasa sabar adalah perjuangan. Up and down tengah kami jalani saat ini, terutama saya. Sehingga, saya ucapkan terima kasih banyak kepada keluarga saya yang selalu mendukung saya, sahabat saya yang selalu ada dan setia memberi semangat, dan juga teman-teman saya yang masih sama-sama berjuang dan tak pernah ragu untuk bertukar kisah. Serta teman-teman yang begitu baik hati bercerita tentang kehamilannya, semoga kalian diberikan kesehatan, keselamatan, dan kebahagiaan selalu dalam menjalani proses kehamilan dan kelahiran nanti. Dukungan sangat berarti di sini.

Saya yang masih mendamba, pun belum tahu kapan kami akan kembali diberikan kepercayaan kembali oleh Allah SWT. Doa dan ikhtiar adalah utama. Saling menyemangati antara suami dan istri adalah kuncinya. Sabar...

Sedikit cerita, saya pun sering kali mendapatkan pertanyaan bahkan pernyataan yang kadang kurang saya bisa terima dengan baik dari orang-orang di sekitar saya saat ini. Saya hanya manusia biasa dan saya tidak menyalahkan mood. Kadang pertanyaan maupun pernyataan tersebut saya masukkan ke hati, kadang juga berusaha untuk saya maklumi. Mereka-mereka yang sampai hati berkata seperti itu, bahkan beberapa hari setelah saya kehilangan janin saya pastilah tidak pernah mengalami hal yang sepertinya ringan saja bagi mereka, bedanya, saya hanya menceritakannya, menuliskannya. Karena bercerita dan menulis adalah terapi. Lain ladang lain ilalang, lain lubuk lain ikannya.

Pun jika bertemu dengan relasi baru saat bekerja, saya sudah menyiapkan diri dengan pertanyaan "Sudah punya anak?". Tapi saya tidak sakit hati, saya malah meminta didoakan. Bukan sebuah kesalahan untuk bertanya, dan bagi saya yang masih berjuang, pun tengah berjuang berdamai dengan dengan segala pertanyaan dan pernyataan. Hahaha. Saya rasa mental saya tengah dibentuk. Saya siap! Semangat.

Untuk ibu-ibu di luar sana yang masih berjuang, ingat pepatah lama "Lain ladang lain ilalang, lain lubuk lain ikannya."

Jumat, 24 November 2017

MENGURANGI SCREEN TIME

Tulisan berikut terinspirasi dari salah satu paragraf yang berada dalam blog milik Mbak Alo dengan judul WEEKLY JOURNAL #35 - A MINDFUL WEEK.

Sebenarnya ada beberapa poin yang disampaikan dalam tulisan tersebut namun entah mengapa saya sangat tertarik dengan satu poin yaitu "Mengurangi Screen Time". Saya pinjam untuk judul juga ya Mbak Alo, hehehe.

"Bener banget nih tulisan", itulah kalimat yang terlintas dalam benak saya sewaktu membaca tulisan milik Mbak Alo satu ini. Kalau bisa manggut-manggut, mungkin saya sudah manggut-manggut tanda setuju namun sayang sekali saya lupa waktu itu saya manggut-manggut atau tidak.


Kesimpulan yang saya peruntukkan bagi diri saya sendiri adalah: bijaklah dalam bermedia sosial.


Sebenarnya masih banyak hal yang ingin saya katakan namun saya menyadari bahwa kapasitas saya sangatlah buruk dalam menilai sesuatu maka ada baiknya saya diam. Karena berkatalah yang baik atau lebih baik diam.