Minggu, 10 Desember 2017

BELI SUSU DAN ROTI GULUNG DI CIMORY SEMARANG

Setelah beberapa kali melewati tempat ini saat pergi ke Semarang atau bahkan hanya nitip dibelikan susu akhirnya pada hari Sabtu, tanggal 09 Desember 2017 saya berkesempatan datang ke Cimory on the Valley. Berlokasi di Jalan Soekarno Hatta, km. 30, Jatijajar, Bergas, Semarang, Jawa Tengah (kalau dari arah Jogja kanan jalan), Cimory on the Valley menghadirkan konsep peternakan hewan dan menyatu bersama alam (sok tau dan tanpa riset loh, hahaha).




Tepat jam 9 lebih 15 menit saya dan keluarga sampai di lokasi, tempat parkir sudah penuh dengan mobil dan bus! Setelah saya masuk ke dalam, barulah diketahui bahwa banyak rombongan anak TK dari berbagai wilayah yang tengah berbaris sedang mengadakan kunjungan ke sini. Ya itu tadi, mungkin memperkenalkan konsep peternakan hewan dan kembali ke alam. Awal mula saya dan keluarga bisa sampai di sini karena minggu lalu saya pulang kampung dan Bapak kepingin diajak jalan-jalan. Bingung mau ke mana, ya sudah saya tentukan tempat ini sebagai destinasi. Barulah pada minggu ini rencana tersebut dilaksanakan. Sebenernya karena saya juga kepingin minum susu Cimory yang nggak dijual di Indomaret sih, hehehe.



Tiket masuk ke lokasi peternakan dan (perkebunan yang belum jadi?) seharga Rp 15.000,- dan nantinya bisa ditukar dengan satu buah yogurt kecil. Kami kira nggak boleh bawa air minum ternyata boleh, alhasil kehausan pas di dalam lokasi karena cuma ada penjual sosis bakar. Hahaha.










Beberapa titik masih diperbarui oleh tukang-tukang. Sepertinya bakal ada calon Rumah Hobbit, tanaman buah atau sayur dan lain sebagainya di dalam sini. Menilik dari prediksi suami saya, 6 bulan lagi beberapa titik di Cimory on the Valley sudah siap dan bakalan lebih indah dan asri untuk dipandang.





Tempat sampah tersedia di banyak tempat, jadi nggak ada alasan untuk buang sampah sembarangan kan?




Iya, hati-hati ya, beneran banyak anak tangganya. Lumayan buat olahraga kalau bolak-balik muterin lokasi sebanyak minimal 5x.




Yap, sampai di penghujung perjalanan. Kami harus kembali ke jalur awal di dekat pintu masuk sebelum keluar. Menurut saya kurang efektif, tapi ya kemungkinan hal tersebut disebabkan oleh belum siapnya sarana dan prasarana. 60% saya cukup menikmati tempat ini. Karena saya wong ndeso, jadi kalau melihat sawah-sawahan, kebun-kebunan, dan peternakan, sudah cukup lumrah. Bedanya di sini, lebih rapi, lebih bersih, yaiyalah. Saya kurang paham pabrik yang di dekat pintu keluar ini apakah pabrik betulan atau hanya display. Karena mesin mati dan tidak ada orang, atau libur? Hehehe saya tidak menanyakan hal tersebut kepada petugas.









Yuhuuu, inilah tujuan saya memilih Cimory on the Valley: beli susu dan roti gulungnya. Hehehe. Oh ya, roti gulungnya tenrnyata enak lho (setidaknya menurut lidah saya), teksturnya lembut, nggak manis banget, nggak bikin eneg. Sesuai selera banget deh. Kalau ke sini boleh beli, atau nyoba testernya aja nggak apa-apa, hahaha.




Di sini juga ada restonya, tapi karena paginya saya dan keluarga sudah sarapan di Warung Sop Senerek Bu Atmo Magelang jadilah kami tidak makan di sini. Kalau makan di sini, nanti buat beli bensin pas perjalanan pulang pakai apa. Hahaha. Terlepas dari itu, memang tujuan kami (saya ding), beli susu sama roti gulung. Pukul 01 siang saya dan keluarga sudah sampai di rumah dengan selamat, alhamdulillah.

Selasa, 05 Desember 2017

BIOSKOP DI BOJONEGORO!

Bojonegoro, sebuah kabupaten dengan luas 2.307 kilometer per segi yang menyimpan cadangan migas  nasional sebesar 20%. Sebuah kabupaten di Jawa Timur yang rutin menjadi langganan banjir pada tiap tahunnya. Cobalah ke Bojonegoro si Kota Ledre ini, kota yang senantiasa panas pagi-siang-malam.

Kesan pertama menginjakkan kaki di kabupaten ini yakni pada bulan April tahun 2015 adalah sepi. Kebetulan saya bertugas di ibukota kabupaten, jadi ya alhamdulillah beberapa fasilitas sudah cukup lengkap. Semuanya harus disyukuri, masih ada Toga Mas (bisa beli buku bacaan deh), masih ada Giant Express (sering berburu diskon akhir bulan), masih ada Indomaret-Alfamart, masih ada beberapa tempat les pelajar yang cukup me-nasional, bank-bank nasional juga lengkap, ada beberapa supermarket dengan harga murah (favorit saya belanja bulanan: Bravo), ada tempat makan gaul-gaul yang mulai tumbuh (favorit saya: Ayam Geprek Nano & Milk Shake, Ayam Geprek yang logonya kuning, Javanilla, dan Leko), beberapa pilihan ekspedisi seperti JNE, J&T, TIKI, dan POS, dan sarana transportasi umum dari bus dan kereta (tapi sayang sekali tidak ada jalur kereta langsung ke Jogja). Tahun lalu bahkan sudah berdiri Go-Fun (Bojonegoro Fun) sejenis BNS kalau di Malang. Terlalu banyak yang harus disyukuri bukan? Ternyata standar rasa syukur saya di sini adalah beberapa hal yang sudah familiar di Indonesia.

Selama hampir tiga tahun ini saya sering mengandai jika Bojonegoro memiliki bioskop (ya, saya suka nonton film), pastilah akhir pekan saya akan lebih menyenangkan (jika saya tidak pulang Jogja). Kira-kira pada bulan Juni tahun 2017 pengandaian saya menemukan muaranya, Bioskop di Bojonegoro hidup kembali. Hidup kembali? Iya, pada tahun 1991 Bojonegoro sempat memiliki bioskop, namun sempat vakum cukup lama dengan alasan yang tentu saja saya tidak tahu. Senang? Alhamdulillah. Jika saya tidak pulang Jogja dan suami yang ke Bojonegoro, akhir pekan sudah pasti kami habiskan nonton film di bioskop. Hiburan! Hahaha (jadi tidak perlu lagi ke Surabaya untuk sekedar menonton film)...

Terima kasih New Star Cineplex Bojonegoro sudah lahir kembali. Oh ya, kalau mau nonton kalian bisa datang ke Jalan Hayam Wuruk, No, 74, Bojonegoro (Seberang Pengadilan Negeri Bojonegoro).


Kamis, 30 November 2017

BERBAGI ADALAH PEDULI #1

Sedikit mengulang namun bukan meratap sarat emosi seperti dalam Berbagi Kisah.

Rezeki, jodoh, dan maut adalah rahasia bagi mereka yang mempercayaiNya.
Dan saya percaya itu. Sebuah kata sederhana dan sangat mudah untuk diucapkan, terlebih bagi mereka yang telah memiliki segala, merangkul semua. Lain halnya bagi kami yang masih mengeja segala dan menerima nyata dengan penuh harap dan pinta. Semoga segera bertemu muaranya...


gambar pribadi: strip dua pada TP sudah agak pudar karena baru kali ini difoto setelah hampir sembilan bulan disimpan

Bulan Desember 2017 nanti seharusnya menjadi bulan kelahirannya, tabungan kami di akhirat, Insha Allah. Bulan Desember 2017 yang juga bertepatan dengan satu tahun pernikahan kami. Bagi kami yang masih merindukan buah hati, mengamini segala doa agar senantiasa sabar adalah perjuangan. Up and down tengah kami jalani saat ini, terutama saya. Sehingga, saya ucapkan terima kasih banyak kepada keluarga saya yang selalu mendukung saya, sahabat saya yang selalu ada dan setia memberi semangat, dan juga teman-teman saya yang masih sama-sama berjuang dan tak pernah ragu untuk bertukar kisah. Serta teman-teman yang begitu baik hati bercerita tentang kehamilannya, semoga kalian diberikan kesehatan, keselamatan, dan kebahagiaan selalu dalam menjalani proses kehamilan dan kelahiran nanti. Dukungan sangat berarti di sini.

Saya yang masih mendamba, pun belum tahu kapan kami akan kembali diberikan kepercayaan kembali oleh Allah SWT. Doa dan ikhtiar adalah utama. Saling menyemangati antara suami dan istri adalah kuncinya. Sabar...

Sedikit cerita, saya pun sering kali mendapatkan pertanyaan bahkan pernyataan yang kadang kurang saya bisa terima dengan baik dari orang-orang di sekitar saya saat ini. Saya hanya manusia biasa dan saya tidak menyalahkan mood. Kadang pertanyaan maupun pernyataan tersebut saya masukkan ke hati, kadang juga berusaha untuk saya maklumi. Mereka-mereka yang sampai hati berkata seperti itu, bahkan beberapa hari setelah saya kehilangan janin saya pastilah tidak pernah mengalami hal yang sepertinya ringan saja bagi mereka, bedanya, saya hanya menceritakannya, menuliskannya. Karena bercerita dan menulis adalah terapi. Lain ladang lain ilalang, lain lubuk lain ikannya.

Pun jika bertemu dengan relasi baru saat bekerja, saya sudah menyiapkan diri dengan pertanyaan "Sudah punya anak?". Tapi saya tidak sakit hati, saya malah meminta didoakan. Bukan sebuah kesalahan untuk bertanya, dan bagi saya yang masih berjuang, pun tengah berjuang berdamai dengan dengan segala pertanyaan dan pernyataan. Hahaha. Saya rasa mental saya tengah dibentuk. Saya siap! Semangat.

Untuk ibu-ibu di luar sana yang masih berjuang, ingat pepatah lama "Lain ladang lain ilalang, lain lubuk lain ikannya."

Jumat, 24 November 2017

MENGURANGI SCREEN TIME

Tulisan berikut terinspirasi dari salah satu paragraf yang berada dalam blog milik Mbak Alo dengan judul WEEKLY JOURNAL #35 - A MINDFUL WEEK.

Sebenarnya ada beberapa poin yang disampaikan dalam tulisan tersebut namun entah mengapa saya sangat tertarik dengan satu poin yaitu "Mengurangi Screen Time". Saya pinjam untuk judul juga ya Mbak Alo, hehehe.

"Bener banget nih tulisan", itulah kalimat yang terlintas dalam benak saya sewaktu membaca tulisan milik Mbak Alo satu ini. Kalau bisa manggut-manggut, mungkin saya sudah manggut-manggut tanda setuju namun sayang sekali saya lupa waktu itu saya manggut-manggut atau tidak.


Kesimpulan yang saya peruntukkan bagi diri saya sendiri adalah: bijaklah dalam bermedia sosial.


Sebenarnya masih banyak hal yang ingin saya katakan namun saya menyadari bahwa kapasitas saya sangatlah buruk dalam menilai sesuatu maka ada baiknya saya diam. Karena berkatalah yang baik atau lebih baik diam.

Rabu, 22 November 2017

JALAN-JALAN KE BATU BERSAMA SUAMI

Tanggal 19 - 22 Juli 2017 yang lalu saya berkesempatan untuk jalan-jalan ke Batu bersama suami. Sebetulnya masing-masing dari kami pernah ke Batu dengan objek wisata yang sama seperti yang kami kunjungi waktu Juli lalu. Tahun 2016 saya ke Batu bersama rombongan keluarga besar Lapas & Bapas Bojonegoro sedangkan suami sudah beberapa kali ke Batu bersama teman-teman gamers-nya. Karena yang ada di pikiran kami hanya "Malang", ya sudah kami putuskan untuk mengambil cuti dan segera cap-cus ke Malang, yang ternyata Batu.

1. Hari Pertama

 "Halo Batu, tunggu kami ya!"
(tengah malam menunggu kereta di Stasiun Tugu, Yogyakarta)













Setelah mengecek homestay kami yang berlokasi di Batu sekaligus untuk menaruh barang, perjalanan kami lanjutkan dengan langsung turun ke Malang untuk kemudian singgah ke beberapa teman kami yang ada di kota apel tersebut. Salah satunya teman kerja saya ini. Sobat seperjuangan, teman satu angkatan di Kemenkumham. Mbak Feny. Selain itu kami juga sempat mampir ke rumah teman gamers-nya suami, dan juga ke rumah saudara sepupu suami yang ada di sana.

Bakso President. Penasaran dengan citarasa bakso legendaris satu ini, Bakso President. Rasanya enak, namun sayang sekali waktu itu kuah baksonya kurang panas. Tapi kalau saya memiliki kesempatan untuk ke Malang lagi dan ditawari makan bakso ini lagi saya pasti bilang YA! Yang unik dari Bakso President ini adalah letaknya yang sangat mepet dengan rel kereta api, jadi hati-hati ya harus tengok kanan dan kiri kalau mau menyeberang.

 

Batu Night Specacular (BNS). Kebetulan lokasi BNS cukup dekat dengan homestay kami maka dari itu suami saya mengajak saya berjalan kaki sekalian olahraga. Alhasil saya malah keringetan, dan begitu naik wahana pertama (waktu itu spinner dilanjutkan kora-kora) saya hampir "mabok" karena perubahan suhu yang cepat dalam diri saya. Sudah buru-buru pengen balik homestay saja waktu itu karena merasa super meriang, tapi karena suami tahu saya ingin menaiki semua wahana maka suami mengajak saya untuk beristirahat di food court sambil makan dan minum yang panas-panas. Termakan? Terminum? Tidak sama sekali, saya pusing banget. Akhirnya cuma Tolak Angin yang terminum. Setelah agak baikan, suami mengajak saya duduk di sekitar wahana sambil menunggu pemulihan saya, alhamdulillah saya masih diizinkan Allah untuk menaiki semua wahana. Kira-kira sekitar 90% semua wahana saya jajal baik yang sudah termasuk tiket terusan, maupun yang harus mengeluarkan biaya tambahan. Seru? Banget! Tapi saya kapok naik wahana yang tiba-tiba diluncurkan ke atas terus tiba-tiba ditarik ke bawah (lupa namanya), jantung kayak mau copot, kalau yang lain masih oke :)

Oh ya, sepulang dari BNS saya dan suami masih sempat ke Alun-Alun Kota Batu untuk mencicipi ketan legendaris. Pos Ketan Legenda 1967. Super enak. Saya mencoba varian rasa Duren Campur Susu & Keju. Juara!

2. Hari Kedua

Hari kedua kami habiskan di Jatim Park 2: Eco Green Park, Batu Secret Zoo, dan Museum Satwa. Lumayan seru. Di Eco Green Park kami menyewa sebuah E-Bike, lumayan membantu dan tidak bikin capek. Di Eco Green Park kami sibuk mencoba wahana permainan, karena kami sama-sama belum pernah masuk Eco Green Park. Selain itu di Eco Green Park juga ada tempat Spa Ikan, di manapun tempat yang saya kunjungi kalau ada Spa Ikan kaki saya tidak pernah absen untuk nyemplung, hehehe.





Sementara itu, di Batu Secret Zoo dan Museum Satwa energi saya sudah habis, jadi tak terlalu antusias lagi. Terlebih pernah ke sini pada tahun lalu. Pulang dari sini sempat membeli beberapa oleh-oleh kaos-kaos buat keponakan.


Saat di Museum Satwa. Maafkan ketidakjelasan kami.


Malam harinya kami kulineran di Bebek Sinjay Madura yang ada di Malang. Kami harus turun lagi nih dari Batu ke Malang. Tak masalah karena kebetulan saya dan suami penggemar kuliner satu ini. Kebetulan juga pernah makan Bebek Sinjay langsung di Madura. Enak. Sambelnya Pencit-nya juara, meski saya tak begitu suka pedas sih.

Pulang dari Bebek Sinjay, perut kami yang seperti karet masih minta diisi lagi, mungkin akibat diterpa dinginnya malam ya, hahaha, kami lanjutkan perjalanan kuliner di Kedai Burger Buto yang berada di Batu. Tapi sayang, saya lupa foto kedainya.


3. Hari Ketiga

Karena citarasa ketan di Alun-Alun Batu sungguh memukau, saya putuskan untuk sarapan ketan di sini. Untungnya suami juga suka, jadi tidak masalah pagi-pagi sarapan ketan. Saya pilih menu yang sama seperti dua hari yang lalu, yaitu Ketan Durian dan Susu tapi tanpa Keju. Sedang suami, saya kira waktu itu suami saya pilih topping abon. Dari situ saya baru tahu kalau Pos Ketan di Alun-Alun Batu ternyata buka selama 24 jam.



Karena kebetulan itu hari Jum'at maka saya dan suami memutuskan untuk tidak ke mana-mana (suami harus sholat Jum'at) jadi dari pagi sampai menjelang siang, waktu kami habiskan dengan membeli oleh-oleh makanan untuk dibawa pulang besok pagi. Barulah pada sore harinya kami menuju Museum Angkot dan penuh dengan kegiatan swafoto di sana. Meski ini kali kedua bagi saya dan suami saya ke sini, kami tetap antusias, entah kenapa, mungkin karena siang hari kami tidak kemana-mana, jadi energi masih utuh :)







Sepulang dari Museum Angkot, kami makan malam daaan memutuskan untuk membeli beberapa Burger Buto lagi. Hahaha. Rasa-rasanya semua varian harus dicoba. Atau memang perut kami yang terbuat dari karet.



4. Hari Keempat

Saatnya pulang. Oh iya ini penampakan homestay kami (cari-cari di Traveloka), selain itu kami juga sewa motor di sini. Setiap pagi kami diberi susu segar hangat dan pisang goreng enak oleh pemilik homestay. Tak ketinggalan juga stock Pop Mie gratis yang juga merupakan fasilitas homestay ini.

Saatnya pulang. Tinggal capeknya aja, tapi seneng. Sampai jumpa Batu & Malang :)